Hukum Istri Yang Mengambil Harta Suaminya Secara Diam-diam

October 23, 2010 § Leave a comment

Didalam kehidupan berumah tangga, banyak hal-hal yang muncul sebagai permasalahan. Salah satu yang terkait adalah mengenai pengelolaan harta dan kewajiban dan hak antara suami dan istri didalam rumah tangga.
InsyaAllah, sedikit dibawah disampaikan mengenai perihal “Bolehkah istri mengambil harta suaminya secara diam-diam atau tanpa izin suami?

Di dalam satu keluarga yang telah dibentuk melalui pernikahan, kewajiban dan hak antara suami istri masing-masing harus dipahami dengan baik agar tercapai keserasian dan harmoni dalam membina keluarga tersebut.

Salah satunya yang perlu diketahui oleh seorang suami adalah memenuhi kewajibannya terhadap hak istri dan anak-anaknya. Kewajiban-kewajiban seorang suami tersebut adalah seperti disabdakan oleh Rasulullah Salallahu’alaihi wasallam, dari sahabat Mu’awiyah bin Haidah bin Mu’awiyah al-Qusyairi radhiyallahu’anhu. Ia bertanya kepada Rasulullah salallahu’alaihi wasallam,

Ya Rasulullah, apa hak seorang istri yang harus dipenuhi oleh suaminya? Maka Rasulullah salallahu’alaihi wasallam menjawab:

  1. Engkau memberinya makan apabila engkau makan,
  2. Engkau memberinya pakaian apabila engkau berpakaian,
  3. Janganlah engkau memukul wajahnya,
  4. Janganlah engkau menjelek-jelekkannya, dan
  5. Janganlah engkau meninggalkannya melainkan di dalam rumah (yakni jangan berpisah tempat tidur melainkan didalam rumah).

(Hadits Shahih. Riwayat Abu Dawud 2142, Ibnu Majah 1850, Ahmad IV/447, V/3, 5, Ibnu Hibban 1286/Al-Mawaarid, al-Baihaqi VII/295, 305, 466-467, al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah IX/159-160, an-Nasa’i – Isyratun Nisaa’ 289 – Tafsir an-Nasa’i 124. Dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi.)[1]

Juga Allah Subhanahuwata’ala telah berfirman di Surat Al-Baqarah: 233:

Artinya: …. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya.

Dari ayat di atas, memberi nafkah kepada istri hukumnya wajib, bahkan walaupun dalam keadaan serba kekurangan, namun tentunya sesuai kadar kemampuannya dan sesuai dengan rejeki yang diterima dari Allah. Bahkan ketika terjadi perceraian, suami masih berkewajiban menafkahi istri dan anak2nya selama masa iddahnya sesuai kemampuan. Wallahu’alam.

Namun bagaimana jika seorang istri dan anak-anaknya ditelantarkan, tidak diberikan nafkah oleh suaminya. Sehingga sampai kemudian harus mengambil harta suami tanpa izin hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhannya? Bagaimanakah hukumnya, apakah si istri berdosa?

Berikut terdapat satu pertanyaan dalam rubrik keluarga Majalah Fatawa yang saya coba kutipkan untuk dapat memberikan penjelasan terhadap permasalahan tersebut:[2]

Tanya:
Suami saya tidak memberi uang belanja kepada saya dan anak-anak, karena itu terkadang kami mengambilnya secara diam-diam tanpa sepengetahuannya. Apakah kami berdosa atas perbuatan tersebut?

Jawab:
Seorang istri boleh mengambil harta suaminya tanpa sepengetahuannya, sebatas apa yang mencukupi kebutuhan dirinya dan anak-anaknya yang tidak berdaya dengan cara yang makruf (baik), tidak berlebih-lebihan dan tidak boros, jika memang suaminya tidak memenuhi kebutuhannya. Sebagaimana hal itu disebutkan dalam sebuah hadits di dalam shahihain dari Aisyah bahwa Hindun binti Utbah berkata

يَا رَسُوْلَ اللهِ إِن أَبَا سُفْيَانَ لاَ يُعْطِيْنِي مَا يُكْفِنِي وَيَكْفِيْ بَنِيَّى … فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالمَعْرُوْفِ مَايَكْفِيْكِ وَيَكْفِي لَنِيْكَ

Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan (suamiku) tidak memberiku nafkah yang cukup kepadaku dan kepada anak-anakku. Rasulullah salallahu’alaihi wasallam bersabda: “Ambillah hartanya dengan cara yang ma’ruf sebanyak yang dibutuhkan olehmu dan anak-anakmu.
(HR. Bukhari 2211 dan Muslim 1714)

Allah-lah penolong dan pemberi taufiq.
(Sumber: Syaikh bin Baz. Fatawa Mar’ah. Hal. 65-66. “Fatawa Ulama al-Bilad al-Haram”. Hal. 553-555)

Semoga hal seperti ini dapat menjadi pelajaran bagi suami maupun istri dalam berkeluarga. Masing-masing pihak suami dan istri agar saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, dan tetap terus belajar, menimba ilmu agama ini sehingga mengetahui perkara-perkara agama seperti yang diajarkan oleh Rasulullah salallahu’alaihi wasallam, termasuk di dalam urusan membina keluarga.

Semoga bermanfaat. Wallahu’alam bish shawab.
abu hanifah

—————-
Referensi:
[1] Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka At-TAqwa Bogor ,Cet. II Desember 2006)
[2] Majalah Fatawa Vol. 05/I/ Muharram Safar 1424 H-2003 M. (dengan sedikit perubahan redaksi)

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hukum Istri Yang Mengambil Harta Suaminya Secara Diam-diam at Uswah Hasanah.

meta

%d bloggers like this: