Fidyah Di Dalam Puasa (1/3)

March 20, 2010 § Leave a comment

Fidyah Di Dalam Puasa (1/3)
(Sumber: http://blog.vbaitullah.or.id/2006/09/28/792-fidyah-di-dalam-puasa-13/)

Allah telah menurunkan kewajiban puasa kepada NabiNya yang mulia pada tahun kedua Hijriyah. Puasa pertama kali diwajibkan dengan takhyir (bersifat pilihan). Barangsiapa yang mau, maka dia berpuasa. Dan barangsiapa yang tidak berkehendak, maka dia boleh tidak berpuasa, akan tetapi dia membayar fidyah. Kemudian hukum tersebut dihapus, dan bagi seluruh orang beriman yang menjumpai bulan Ramadhan diperintahkan untuk berpuasa.

Pada zaman sekarang ini, ada sebagian orang yang beranggapan, bahwa seseorang boleh tidak berpuasa meskipun sama sekali tidak ada udzur,
asalkan dia mengganti dengan membayar fidyah. Jelas hal ini tidak
dibenarkan dalam agama kita. Untuk memperjelas tentang fidyah, dalam
tulisan ini akan kami uraikan beberapa hal berkaitan dengan fidyah
tersebut. Semoga Allah memberikan taufikNya kepada kita untuk ilmu
yang bermanfa’at, serta amal shalih yang Dia ridhai.

1 Definisi Fidyah

Fidyah atau fidaa atau fida’ adalah satu makna. Yang artinya, apabila
dia memberikan tebusan kepada seseorang, maka orang tersebut akan
menyelamatkannya.2

Di dalam kitab-kitab fiqih, fidyah, dikenal dengan istilah “ith’am”,
yang artinya memberi makan. Adapun fidyah yang akan kita bahas di
sini ialah, sesuatu yang harus diberikan kepada orang miskin, berupa
makanan, sebagai pengganti karena dia meninggalkan puasa.

2 Tafsir Ayat Tentang Fidyah

Allah telah menyebutkan tentang fidyah dalam KitabNya Yang Mulia.
Sebagaimana Allah berfirman:

Maka barangsiapa diantara kalian yang sakit atau dalam bepergian (di
bulan Ramadhan), wajib baginya untuk mengganti pada hari-hari yang
lain. Dan wajib bagi orang yang mampu berpuasa (tapi tidak mengerjakannya),
untuk membayar fidyah dengan memberi makan kepada seorang miskin.
Barangsiapa yang berbuat baik ketika membayar fidyah (kepada miskin
yang lain) maka itu lebih baik baginya, dan apabila kalian berpuasa
itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui. (QS Al
Baqarah : 184).

Ulama telah berbeda pendapat dalam hal firman Allah :

(Dan wajib bagi orang mampu berpuasa (tapi tidak mengerjakannya),
maka dia membayar fidyah dengan memberi makan kepada seorang miskin).

Apakah ayat ini muhkamah atau mansukhah? Jumhur ulama berpendapat,
bahwa ayat ini merupakan rukhshah ketika pertama kali diwajibkan puasa,
karena puasa telah memberatkan mereka. Dahulu, orang yang telah memberikan
makan kepada seorang miskin, maka dia tidak berpuasa pada hari itu,
meskipun dia mampu mengerjakannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits
Bukhari dan Muslim dari Salamah bin Akwa’, kemudian ayat ini telah
dimansukh dengan firman Allah:

(Maka barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan bulan Ramadhan,
maka hendaklah dia berpuasa -Al Baqarah ayat 185-).

Telah diriwayatkan dari sebagian ahli ilmu, bahwa ayat di atas tidak
dimansukh, akan tetapi sebagai rukhshah, khususnya untuk orang-orang
tua dan orang yang lemah, apabila mereka tidak mampu mengerjakan puasa
kecuali dengan susah payah. Makna ini sesuai dengan bacaan tasydid,
yakni Yuthiiquu Nahuu. Artinya, bagi orang yang merasa berat untuk
mengerjakannya.3

Dari Atha, sesungguhnya dia mendengar Ibnu Abbas membaca ayat:

Tentang ayat ini, Ibnu Abbas berkata:

Ayat ini tidaklah dimansukh.

Yang dimaksud ialah orang tua laki-laki dan wanita, yang keduanya
tidak mampu untuk berpuasa, maka ia memberi makan untuk satu hari
kepada satu orang miskin”. (Dikeluarkan oleh Al Bukhari di
dalam kitab Tafsir).4

Berkata Syaikh Abdur Rahman As Sa’di di dalam tafsirnya:

“Dan ada pendapat yang lain, bahwa ayat: .
Maksudnya mereka yang merasa terbebani dengan puasa dan memberatkan
mereka, sehingga tidak mampu mengerjakannya, seperti seorang yang
sudah tua, maka dia membayar fidyah untuk setiap hari memberi makan
kepada satu orang miskin. Dan ini adalah pendapat yang benar”.

5

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata;

“Penafsiran Ibnu Abbas dalam ayat ini menunjukkan kedalaman
fikihnya, karena cara pengambilan dalil dari ayat ini; bahwa Allah,
menjadikan fidyah sebagai pengganti dari puasa bagi orang yang mampu
untuk berpuasa, jika dia mau maka dia berpuasa; dan jika tidak, maka
dia berbuka dan membayar fidyah. Kemudian hukum ini dihapus, sehingga
diwajibkan bagi setiap orang untuk berpuasa. Maka ketika seseorang
tidak mampu untuk berpuasa, yang wajib baginya adalah penggantinya,
yaitu fidyah”.

6

Catatan Kaki


2
Lihat Mukhtar Ash Shihah, Imam Muhammad Ar Razi. Cet. Maktabah
Lubnan, hlm. 435.

3
Lihat Nailul Maram Min Tafsiir Ayatil ahkam, ‘Allamah Shiddiq
Khan, hlm. 90-91.

4
Fathul Bari (8/135).

5
Lihat Tafsir As Sa’di, hlm. 69

6
Asy Syarhul Mumti’, (6/334).

Disalin dari majalah As Sunnah Edisi Khusus/Tahun IX/1426H/2005M

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Fidyah Di Dalam Puasa (1/3) at Uswah Hasanah.

meta

%d bloggers like this: